HUNTING “TUHAN”
Thursday, January 25th, 2007"Dibutuhkan, cepat!! "Tuhan"
dengan ketentuan :
- sepemikiran dengan ku,(berarti
radaedan..) - kalau bisa berjenis kelamin lelaki, tampan, bertubuh atletis, (supaya bisa di bangga-in)
- modern!!, (meng-halal-kan dugem, meng-halal-kan jack daniel, meng-halal-kan rok pendek dan tank top, tapi meng-haram-kan poligamy, poligini,dan poliandri eh.. (mikir..) poliandri halal aja deh..
- pemaaf (jadi kalau aku salah tetap masuk surga..)
dulu waktu aku umur 16-18, hidupku seperti gelombang pasang yang nggak pernah tenang,
mencari peng-aku-an, mencari jati diri (walaupun maksud jati diri itu sendiri sampai sekarang aku nggak "ngeh")hampir setiap hari berantem dengan orang tua demi kebebasan, dan persamaan perlakuan ke kakak2 ku yang lain
yang nota bene mereka lelaki semua.
di usia 18-21 gejolak itu seperti gelombang badai tsunami, karena jauh dari orang tua semua nya seperti
banteng liar yang dilepas dari kandang,
sekarang setelah terasa lebih tenang, setelah merasa menemukan "jati diri" (lupa nemu dimana),
eh.. malah nyari yang lebih dahsyat.. "Tuhan"
Dengan tidak mengurangi kepercayaan kepada Agama (<<klik di sini) yang diwariskan orang tua ku tercinta,
aku mulai mencari pembenaran, tentang "Jalan" "mendekati" Tuhan yang aku tempuh,
aku merasa nggak rela "sekonyong-konyong" menyandang "Muslimah" tanpa mencari,
mulai dari melihat orang-orang yang memeluk agamanya masing-masing,
melihat kelakuan buruk (baca: kampungan), aku mulai meragukan kredibilitas "Agama"
manapun dalam mendidik moral umat nya,
ok aku maklum mungkin mereka awam, sama seperti ku (sedang "mencari")
lalu aku mempertimbangkan pemuka agama untuk aku amati,
aku tertegun, ternyata banyak dari mereka yang (menurut ku) bejat juga..
ok aku maklum lagi,mereka juga manusia..
selanjut nya aku menilik orang -orang yang berpindah agama,
jangan-jangan mereka udah ketemu Tuhan duluan,
lah… aku tertegun untuk kedua kali, kenapa kebanyakan cuma karena mau nikah??
dooooh…
banyak forum-forum debat yang sudah mempengaruhi ku, banyak blog, banyak kitab suci,
dan aku menemukan "nya" (baca : bukan Tuhan)
Tuhan..
sekarang sampai saat ini (berarti suatu waktu bisa berubah)
aku meng-ibarat-kan :
seperti einstein (akan saya umpamakan "Tuhan" bagi e=mc²)yang menciptakan e=mc² (saya umpamakan seperti manusia yang diciptakan Tuhan)
einstein = manusia
e=mc² = rumus
aku sama sekali nggak melihat kesamaan antar einstein dan e=mc²
tidak ada satu hal pun dari e=mc² yang berkorelasi dengan einsten "the creator"
tidak ada satu pun kebiasaan einsten sebagai manusia yang menurun ke e=mc² sebagai hasil ciptaan nya
einsten bernafas, tapi e=mc² tidak,
einsten makan, tapi e=mc² tidak,
einsten bercinta, tapi e=mc² tidak,satu-satu nya hal yang tergambar tentang einstein dari e=mc² adalah: "einstein genius"
untung nya aku tau einstein itu manusia
coba kalo enggak, trus aku membayangkan einsten dengan panduan E=mc² nya,
jangan-jangan aku berfikir kalo einstein itu juga rumus..
sudah selesai..
persoalan yang menyangkut agama, aku kembalikan pada agama,
aku tidak lagi meng-argumentasi-kan dengan kemampuan nalar ku,
karena bisa-bisa aku menuntut agama sesuai dengan selera ku,
aku tidak lagi mencari Tuhan,
aku tidak lagi mencari mana Agama yang paling benar,
percuma mencari Tuhan melalui ciptaan nya,
aku tetap setia dengan Agama warisan orang tua ku,
"semua laki-laki di ruangan itu meng-klaim mereka pernah berhubungan dengan Laila,
tapi cuma Laila lah yang tau siapa yang berhubungan dengan nya"